Senin, 30 Maret 2020

Resensi Buku Rantau 1 Muara


Perantauan Hidup Manusia

A.    IDENTITAS BUKU
Judul Buku      : Rantau 1 Muara
Pengarang       : A. Fuadi
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun Terbit    : Juli 2013 (cetakan 4)
Tebal               : 407 dan ix halaman




B.     SINOPSIS
Alif lulus dari Universitas Padjajaran Bandung dengan nilai yang sangat memuaskan. Tentu ia yakin perusahaan akan berlomba mendapatkannya. Namun, ia diwisuda di waktu yang kurang tepat. Pada saat itu di akhir tahun 90-an Indonesia mengalami krisis moneter sehingga ia kesulitan mencari pekerjaan. Berkali-kali ia mengirim lamaran pekerjaan, namun hasilnya nihil. Ia mengalami kegaluan yang sangat hebat. Di sisi lain ia juga harus membiayai amak dan adik-adiknya. Sebuah harapan muncul ketika Alif diterima menjadi wartawan di sebuah perusahaan majalah terkenal di Jakarta. Di sana, ia bertemu dengan seorang gadis yang dulu pernah dia curigai. Gadis itu bernama Dinara yang ternyata adalah temannya Raisa. Lambat laun hatinya tertarik pada Dinara. Dari Jakarta, terbuka cakrawala baru. Alif meraih beasiswa ke Washington DC, dia kuliah sambil menjual tiket. Di sana ia bertemu dengan Garuda, ia orang Indonesia asli orang Jawa. Bersamanya ia tinggal di Amerika. Dia sangat menyayangi Alif layaknya adiknya sendiri. Cerita-ceritanya sangat menginspirasi Alif. Baik itu cerita tentang keluarganya ataupun tentang calon istrinya. Dan di situ akhirnya Alif mulai berfikiran untuk melamar gadis pujaan hatinya, Dinara. Proses pendekatan kepada papanya Dinara, itu yang paling sulit. Karena awalnya papanya Dinara tidak merestui hubungan mereka. Namun Alif tak pernah menyerah, ia terus berusaha menarik hait papanya hingga pada akhirnya merestuinya. Dengan penuh semangat, Alif terbang dari Amerika menuju Indonesia. Hal yang paling dinantikannya akhirnya tiba juga. Ia menikah dengan Dinara. Usai pernikahan, mereka terbang lagi ke Amerika. Dinara menjadi wartawan di sebuah majalah terkemuka di Amerika, lalu setelah lulus kuliah Alif menyusul Dinara. Mereka hidup bahagia, gaji yang besar membuat mereka mudah melakukan aapun di Amerika. Pun cita-citanya untuk membantu Amak dan adik-adiknya di kampong tercapai juga. Mereka juga mampu menjadi wartawan yang berprestasi dan teladan di majalah tersebut. Sampai terjadi peristiwa 11 September yang menggoyahkan jiwanya. Garuda yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri menjadi korban peristiwa tersebut. Alif dipaksa memikirkan ulang misi hidupnya. Dengan mantra ke tiga “man saara ala darbi washala” (siapa yang berjalan di jalannya akan sampai pada tujuan) menuntun perjalanan pencarian misi hidup Alif. Hingga ia akhirnya memutuskan untuk menetap di Indonesia selamanya. Ia diterima di perusahaan majalah di Jakarta kembali dengan gaji yang sama dengan Amerika.

C.    KEPENGARANGAN
Ahmad Fuadi lahir di Bayur, kampung kecil di pinggir Danau Maninjau tahun 1972. Fuadi merantau ke Jawa, mematuhi perintah ibunya untuk masuk sekolah agama. Di Pondok Modern Gontor dia bertemu dengan kiai dan ustad yang diberkahi keikhlasan mengajarkan ilmu hidup dan ilmu akhirat. Gontor pula yang mengajarkan kepadanya “mantra” sederhana yang sangat kuat, man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.
Lulus kuliah Hubungan Internasional, UNPAD, dia menjadi wartawan majalah Tempo tahun 1999, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk kuliah S-2 di School of Media and Public Affairs, George Washington Univesity, USA. Merantau ke Washington DC bersama Yayi, istrinya adalah mimpi masa kecilnya yang menjadi kenyataan.Sambil kuliah mereka menjadi koresponden Tempo dan wartawan Voice Of Amerika (VOA). Berita bersejarah seperti tragedi 11 September dilaporkan mereka berdua langsung dari Pentagon, White House, dan Capitol Hill.
Menjadi seorang scholarship hunter, hungga jinni Fuadi telah mendapatkan Sembilan beasiswa untuk belajar di luar negeri. Tahun 2004, dia mendapatkan beasiswa Chevening Award untuk belajar di Royal Holloway, University of London. Dia telah mendapat kesempatan tinggal dan belajar di Kanada, Sinfapura, Amerika Serikat, Itali, dan Inggris.
Negeri 5 Menara telah diangkat ke layar lebar tahun 2011 dan buku ini mendapatkan penghargaan : Nominasi Khatulistiwa Literary Award 2010 dan Penulis & Buku Fiksi Terfavorit 2010 versi Anugerah Pembaca Indonesia. Pada 2011, Fuadi dianugerahi Liputan 6 Award, SCTV untuk kategori Motivasi dan Pendidikan, Penulis Terbaik IKAPI dan Juara 1 Karya Fiksi Terbaik Perpusnas. Tahun 2012, Fuadi terpilih sebagai resident di Bellagio Center, Itali dan tahun 2013 mendapat penghargaan dari DJKHI Kemenkumham untuk kategori Karya Cipta Novel.
Fuadi telah diundang jadi pembicara di berbagai acara internasional seperti Frankfrut Book Fair, Ubud Writers Festival, Singapore Writers Festival, Salihara Literary Biennale, Makassar Writers Festival, serta Byron Bay Writers Festival di Australia.
Penyuka fotografi ini pernah menjadi Direktur Komunikasi The Nature Conservancy, sebuah NGO konservasi internasional. Kini Fuadi sibuk menulis, menjadi public speaker, serta membangun yayasan social untuk membantu pendidikan anak usia diani yang kurang mampu-Komunitas Menara.
Selain itu, Fuadi juga telah menulis beberapa buku yang telah diterbitkan, diantaranya :
1.      Negeri 5 Menara
2.      Ranah 3 Warna
3.      Rantau 1 Muara
4.      The Land of Five Towers (Negeri 5 Menara English Edition)


D.    ULASAN
Kelebihan Buku :
-          Adanya bait-bait syair yang menginspirasi pembaca di awal dan akhir buku.
-          Kofer tebal dan menarik, karena dibalik kover ada denah beberapa tempat di Amerika Serikat.
-          Alur cerita yang mudah dipahami.
-          Menceritakan kisah nyata.

Kekurangan Buku :
-            Karakter tokoh ada yang kurang logis. Contohnya “Mas Garuda”
-            Terlalu banyak judul. Ada 46 judul sekaligus membuat kesan awal pembaca mudah bosan.
-            Adanya kata yang kurang diperjelas maksudnya. Seperti pada halaman 383.
-            Kualitas kertas kurang baik.


E.     REKOMENDASI
Novel ini baik dibaca oleh para pemuda karena dapat menginspirasi pembaca untuk bisa berjuang memperoleh cita-citanya, tidak mudah putus asa dalam segala keadaan dan tentunya kita hidup karena Allah sehingga kita suatu saat akan kembali kepada satu asal yaitu Dzat-Nya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar